Back to Blog
Lowongan PLN 2025: Dari Teknik hingga Non-Teknik, Inilah Kesempatanmu (Tutup)

Lowongan PLN 2025: Dari Teknik hingga Non-Teknik, Inilah Kesempatanmu (Tutup)

Rekrutmen PLN 2025 ini ibarat sebuah hajatan besar. Orang kampung biasanya menyebutnya pesta, karena semua turut bersiap, semua berharap, dan semua merasa punya bagian. PLN membuka pintu—lebar sekali—bagi siapa saja yang ingin menyalakan lampu, bukan hanya di rumah-rumah, tapi juga di dalam hidupnya sendiri.

Tak sekadar mencari kerja, ini kesempatan ikut menulis masa depan energi negeri. Sebab apa artinya cahaya, bila bukan untuk dibagi? Dan siapa yang tak ingin menjadi bagian dari mesin besar yang membuat Indonesia terang dari ujung ke ujung?

Inserted Image

Seperti sebuah orkestra, PLN 2025 membutuhkan banyak pemain dengan alat musik berbeda. Ada yang meniup terompet listrik, ada yang memetik gitar mesin, ada yang mengetuk drum sipil. Mereka semua bagian dari kelompok bidang teknik.

  • Dari Teknik Elektro, Mesin, dan Sipil, sampai pada Teknik Industri, Informatika, Kimia, dan Lingkungan—semua jurusan ini seperti tulang dan urat nadi.

  • Ada juga yang lebih khusus: Energi Baru Terbarukan, Konversi Energi, hingga Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Mereka ini penjaga ritme, agar orkestra tetap selaras.

  • Jangan lupakan Geodesi, Geologi, Pertambangan, dan Teknik Material—penyumbang nada dasar, supaya melodi bisa berdiri kokoh.

  • Di era data, Supply Chain Management, Logistik, Data Science, bahkan Matematika hadir sebagai konduktor digital.

Tapi sebuah orkestra tak hanya butuh pemain alat musik. Ada pula yang mengurus tiket, panggung, bahkan penonton. Itulah kelompok bidang non-teknik.

  • Dari Akuntansi dan Keuangan, Manajemen, hingga Administrasi, mereka menjaga agar pertunjukan terus berjalan.

  • Hukum dan Public Policy bertindak seperti pagar, mengingatkan: jangan keluar jalur.

  • Komunikasi, Hubungan Masyarakat, Psikologi, dan Analis Bisnis adalah juru bicara, penerjemah, sekaligus pendengar setia.

Semua bidang ini—teknik dan non-teknik—saling melengkapi, saling mengisi. Seperti kehidupan sehari-hari, di mana tukang listrik dan ibu rumah tangga sama-sama penting agar lampu bisa menyala dan meja makan tetap terang.

Inserted Image

Dalam dunia kerja, ijazah kadang seperti tiket masuk. Ada yang kelas ekonomi, ada yang eksekutif, tapi semua menuju stasiun yang sama. PLN membuka jalannya begitu rupa—ada tempat bagi lulusan Diploma III (D-III), ada juga ruang lapang untuk Sarjana (S1) atau Diploma IV (D-IV).

Yang pegang tiket lebih tinggi, Magister (S2), juga dipersilakan masuk—khususnya untuk bidang Hukum dan Public Policy. Bukan untuk membedakan, tapi karena di kursi itu memang butuh orang dengan pandangan lebih jauh, lebih luas.

Namun, jangan salah sangka. Bukan berarti lulusan D-III atau S1 kurang penting. Justru di tangan merekalah pekerjaan sehari-hari digerakkan. Seperti pasukan semut yang tanpa henti membangun sarangnya, atau para petani yang menanam padi hingga sawah menjadi hijau. Sedangkan yang lulusan S2, ibarat kepala dusun yang memastikan arah ladang tidak salah.

PLN menempatkan semua jenjang ini dalam satu lingkaran. Bukan siapa yang lebih tinggi, bukan pula siapa yang lebih rendah. Tetapi siapa yang mau bekerja, siapa yang rela belajar, siapa yang tak lelah menyalakan cahaya.

Kalau PLN itu rumah besar, maka anak perusahaannya adalah kamar-kamar yang berderet. Ada kamar untuk mereka yang kuat menjaga mesin, ada kamar untuk yang pandai mengatur arus barang, ada pula kamar untuk mereka yang piawai melayani pelanggan. Semua punya peran, semua punya penghuninya sendiri.

Di tahun 2025 ini, pintu kamar-kamar itu sedang terbuka. Para pelamar bisa ditempatkan di PT PLN Indonesia Power, yang mengurusi urat nadi pembangkit listrik. Atau di PT PLN Nusa Daya, yang memberi warna berbeda dalam pengelolaan layanan. Ada pula PT PLN Energi Primer Indonesia, yang memastikan bahan bakar dan energi dasar selalu tersedia—ibarat dapur yang tak boleh kehabisan beras.

Belum cukup di situ. Ada juga PT PLN Nusantara Power, yang kiprahnya menjangkau luas, menjaga agar cahaya bisa merata. Lalu PT PLN Electricity Services, unit yang mengurus pelayanan kelistrikan lebih dekat ke masyarakat. Dan tentu saja, PT PLN (Persero), sang induk, yang menjadi payung dan sekaligus pohon besar tempat semua cabang bertumbuh.

Penempatan di anak perusahaan ini bukan soal di mana kita ditempatkan, tetapi soal apa yang bisa kita sumbangkan. Sebab, seperti pepatah kampung: “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Entah di pusat, entah di cabang, entah di kota besar atau di pulau kecil, tugasnya sama—membawa terang untuk semua.

Setiap pesta selalu ada undangan, setiap undangan selalu ada tanggal. Begitu juga dengan rekrutmen PLN 2025 ini. Undangan itu berlaku dari 1 Oktober hingga 5 Oktober 2025. Lima hari yang singkat, tapi cukup bagi siapa saja yang memang sudah bersiap diri.

Seperti orang hendak pergi ke pasar subuh: yang sudah bangun lebih dulu akan dapat sayur segar. Yang terlambat, hanya tinggal sisa. Maka, jangan menunggu waktu terlalu lama. Siapkan berkas, rapikan niat, lalu ayunkan langkah sebelum tanggal berganti.

Ada juga rekrutmen khusus—ibarat jalur tamu kehormatan—yakni untuk Putra-Putri Asli Papua. Jalur ini sudah lebih dulu selesai, dari 8 September hingga 21 September 2025. Ini bukan berarti kesempatan lain hilang, justru menandakan PLN membuka pintu dengan banyak cara, menghormati keberagaman, dan merangkul semua anak negeri.

Karena, seperti cahaya lampu minyak di desa: siapa pun boleh menyalakan, siapa pun boleh menikmati. Yang penting tahu waktunya, jangan sampai api padam sebelum sumbu sempat dibakar.

Melamar kerja itu mirip seperti hendak melamar seseorang. Tidak cukup dengan niat baik, harus ada persiapan, harus ada ketulusan. Begitu juga dengan rekrutmen PLN 2025 ini—yang datang hanya dengan tangan kosong, bisa saja pulang dengan kecewa.

Pertama, rapikan dokumen. Jangan biarkan ijazah atau sertifikat tercecer, seakan-akan tidak dihargai. Dokumen itu ibarat cincin lamaran—kecil bentuknya, tapi besar maknanya.

Kedua, pahami bidang yang dituju. Kalau melamar di teknik, kenali dulu aliran listriknya. Kalau non-teknik, mengerti pula irama bisnis dan komunikasi. Jangan sampai datang tanpa tahu apa-apa, seperti orang tersesat di pasar yang asing.

Ketiga, perhatikan tenggat waktu. Ingat, 1 sampai 5 Oktober itu bukan sekadar angka. Ia seperti kereta yang datang sekali. Siapa yang terlambat naik, harus rela menunggu tahun berikutnya.

Terakhir, tampilkan diri dengan jujur. Jangan lebih-lebihkan, jangan pula merendah terlalu dalam. Orang yang jujur ibarat pelita—cahayanya mungkin tidak menyilaukan, tapi cukup untuk menunjukkan jalan.

Karena sesungguhnya, melamar di PLN bukan hanya soal mendapat pekerjaan. Ini juga soal berani menjadi bagian dari cerita besar: menyalakan terang, menyambung kehidupan.

Dalam setiap perjalanan, kadang orang tersandung bukan karena batu besar, tapi karena kerikil kecil yang tak terlihat. Begitu pula saat melamar kerja di PLN. Banyak kesalahan yang sebenarnya sepele, tapi bisa membuat langkah terhenti.

Pertama, dokumen tidak lengkap atau salah unggah. Ini seperti pergi ke kondangan tapi lupa bawa amplop—malu sendiri, dan tentu saja tidak dianggap serius.

Kedua, terlambat mendaftar. Sudah tahu jadwalnya 1–5 Oktober, tapi masih saja menunda. Seperti orang menunggu hujan reda padahal sawah sudah menjerit kering. Waktu tidak bisa diputar ulang, dan kesempatan bisa hilang begitu saja.

Ketiga, asal memilih posisi. Banyak pelamar yang hanya klik “apply” tanpa membaca deskripsi. Itu sama saja seperti membeli baju tanpa tahu ukuran—akhirnya kebesaran atau kekecilan, dan tak bisa dipakai.

Keempat, tidak menyiapkan diri untuk seleksi lanjutan. Mengira cukup dengan mengirim berkas, lalu duduk tenang. Padahal, ada tes, ada wawancara, ada tahap-tahap yang menunggu. Jangan seperti petani yang menanam lalu pulang tidur, lupa bahwa padi harus dirawat.

Dan terakhir, terlalu percaya pada keberuntungan tanpa usaha. Rejeki memang urusan Tuhan, tapi kerja keras adalah urusan kita. PLN mencari mereka yang siap belajar, bukan yang hanya berharap mukjizat.

Hindari kesalahan-kesalahan kecil ini, karena sering kali yang menggagalkan bukanlah kekurangan ilmu, melainkan abainya kita pada hal-hal sederhana.

Rekrutmen PLN 2025 bukan sekadar lowongan kerja. Ia seperti undangan untuk ikut menyalakan terang di setiap rumah, di setiap jalan, di setiap sudut negeri. Yang melamar bukan hanya mencari gaji, tetapi juga kesempatan menjadi bagian dari mesin besar yang membuat Indonesia tetap hidup, tetap menyala.

Setiap bidang—teknik maupun non-teknik—adalah kepingan mozaik. Setiap jenjang pendidikan, dari D-III sampai S2, adalah warna berbeda dalam satu lukisan. Dan setiap anak perusahaan PLN adalah ladang tempat benih ditanam, agar kelak tumbuh pohon yang menaungi banyak orang.

Jangan pandang ini sekadar perekrutan. Pandanglah sebagai kesempatan: kesempatan untuk belajar, untuk mengabdi, untuk membuat lampu-lampu tetap menyala meski malam gelap datang berkali-kali.

Karena pada akhirnya, bekerja di PLN bukan hanya soal pekerjaan. Ia adalah cerita tentang pengabdian. Tentang cahaya yang tak pernah letih. Tentang kita semua—yang ingin rumahnya terang, jalanan aman, dan masa depan lebih bercahaya.

FAQ Rekrutmen PLN 2025

❓ Apakah semua jurusan bisa melamar di PLN?
Tidak semua, tapi banyak. Ada jalur teknik, ada jalur non-teknik. Kalau jurusanmu ada di daftar, silakan coba. Kalau tidak ada, jangan kecil hati—masih ada kesempatan di tahun-tahun berikutnya. Hidup ini ibarat angkot, kalau tak dapat tumpangan pertama, ada angkot lain yang lewat.

❓ Apakah pelamar harus siap ditempatkan di seluruh Indonesia?
Ya, karena PLN itu seperti cahaya lilin—menyebar sampai ke desa-desa. Jangan hanya berharap ditempatkan di kota besar. Siap ditempatkan di mana saja artinya siap menyalakan terang di mana pun dibutuhkan.

❓ Kalau belum punya pengalaman kerja, apakah bisa melamar?
Bisa. Banyak posisi di PLN justru ditujukan untuk lulusan baru. Pengalaman memang penting, tapi semangat belajar lebih utama. Seperti pemain bola muda—meski belum banyak jam terbang, kalau larinya kencang dan tekadnya bulat, pelatih akan melirik juga.

❓ Bagaimana kalau tidak lolos seleksi?
Jangan berkecil hati. Gagal sekali bukan berarti gagal selamanya. Anggap saja ini latihan. Seperti petani menanam padi, kadang musim tak berpihak. Tapi ia tetap menanam lagi, menunggu hujan berikutnya.

❓ Apakah ada biaya untuk mendaftar?
Tidak ada. PLN menegaskan rekrutmen ini gratis. Kalau ada yang minta uang, itu jelas bukan jalannya. Hati-hati, jangan sampai niat baikmu dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab.

❓ Apa kunci utama agar lolos?
Selain memenuhi syarat dan rapi dalam dokumen, kuncinya adalah jujur dan tekun. PLN mencari orang yang mau belajar, mau bekerja, dan mau setia pada komitmen. Karena listrik tak pernah tidur, dan orang-orang yang menjaganya pun harus punya hati yang sama.